Ketika Guru Tak Lagi Menunggu
Ketika Guru Tak Lagi Menunggu
SDN
Guluk-Guluk III, Kec. Guluk-Guluk Kab.Sumenep
Ada
sekolah yang berdiri megah karena dibangun dengan anggaran besar. Ada pula
sekolah yang tetap berdiri karena ada orang-orang yang memilih untuk tidak
menyerah.
Di
sebuah sudut desa, SDN Guluk-Guluk III terus menjalani hari-harinya
dengan wajah yang semakin kusam. Tembok-tembok sekolah mulai kehilangan warna.
Sebagian permukaannya rusak dan mengelupas. Atap yang semestinya menjadi
pelindung dari panas dan hujan pun tak lagi dalam kondisi yang layak.
Namun,
di balik bangunan yang mulai renta itu, proses pendidikan tidak pernah
berhenti.
Bel
sekolah tetap berbunyi. Anak-anak tetap datang membawa buku dan harapan.
Guru-guru tetap berdiri di depan kelas, mengajarkan pelajaran, menanamkan
karakter, dan meyakinkan anak-anak desa bahwa sekolah mereka juga memiliki masa
depan.
Persoalannya,
bagaimana mungkin sebuah sekolah dapat memberikan ruang belajar yang nyaman
jika ruang belajarnya sendiri perlahan dimakan usia?
Menunggu Bantuan yang Tak Kunjung Tiba
Selama
ini, persoalan jumlah murid menjadi salah satu ukuran dalam menentukan berbagai
bantuan untuk sekolah. Sekolah dengan jumlah peserta didik yang sedikit sering
kali berada dalam posisi yang sulit.
Di
satu sisi, kerusakan bangunan tetap membutuhkan penanganan. Di sisi lain,
jumlah murid yang sedikit membuat sekolah tidak selalu memenuhi standar yang
dipersyaratkan untuk mendapatkan bantuan.
Lalu,
apakah sekolah harus terus menunggu?
Apakah
guru harus membiarkan tembok semakin rapuh dan atap semakin rusak hanya karena
bantuan belum datang?
Jawabannya
adalah tidak.
Guru-guru
di SDN Guluk-Guluk III memilih untuk bergerak.
Guru Desa Tidak Harus Menunggu
Dengan
kemampuan keuangan sekolah yang terbatas, sedikit demi sedikit bahan bangunan
dibeli. Tidak banyak. Tidak sekaligus. Hanya sebatas yang mampu dilakukan.
Ada
bahan yang dibeli hari ini. Ada pekerjaan yang dikerjakan ketika ada
kesempatan. Ada bagian yang diperbaiki semampunya.
Dan
yang paling penting, ada gotong royong.
Guru
yang biasanya memegang buku dan mengajar di dalam kelas, sesekali harus
memegang alat kerja. Mereka tidak sedang meninggalkan profesinya sebagai guru.
Justru melalui kerja sederhana itu, mereka sedang menunjukkan satu pelajaran
penting kepada anak-anak:
Membangun
sekolah adalah bagian dari membangun masa depan.
Tidak
semua perubahan harus menunggu anggaran besar.
Tidak
semua persoalan harus menunggu tangan orang lain.
Kadang-kadang,
perubahan dimulai dari tangan sendiri.
Sekolah Bukan Sekadar Bangunan
Bagi
sebagian orang, bangunan sekolah mungkin hanya terlihat sebagai tembok, pintu,
jendela, lantai dan atap.
Tetapi
bagi guru, sekolah adalah tempat tumbuhnya harapan.
Di
ruang-ruang sederhana itulah anak-anak belajar membaca dunia. Di bangku-bangku
sekolah itulah mereka mulai mengenal cita-cita. Dari halaman sekolah itulah
mereka belajar berteman, bekerja sama dan menghargai orang lain.
Karena
itu, ketika bangunan sekolah mulai kusam, sesungguhnya yang sedang
dipertaruhkan bukan hanya persoalan fisik.
Ada
kenyamanan belajar anak-anak yang harus dijaga.
Ada
semangat guru yang harus dirawat.
Ada
masa depan generasi desa yang harus terus diperjuangkan.
Mengundang Simpati Masyarakat
SDN
Guluk-Guluk III tidak ingin hanya dikenal karena bangunannya yang membutuhkan
perhatian.
Sekolah
ini ingin dikenal karena semangatnya.
Guru-gurunya
berharap, ikhtiar kecil yang dilakukan hari ini dapat membuka mata lebih banyak
pihak bahwa sekolah desa juga layak mendapatkan perhatian.
Barangkali
ada orang tua yang selama ini belum mengenal sekolah ini.
Barangkali
ada masyarakat sekitar yang belum mengetahui bagaimana guru-guru berusaha
mempertahankan dan memperbaiki sekolah dengan kemampuan yang ada.
Barangkali
pula ada keluarga yang sedang mencari sekolah untuk putra-putrinya—sebuah
sekolah yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga memperlihatkan
kepada anak-anaknya arti perjuangan, kebersamaan dan gotong royong.
Karena
itu, sekolah ini ingin mengatakan dengan sederhana:
Datanglah.
Lihatlah. Kenalilah.
Lihat
bagaimana guru-guru berjuang.
Lihat
bagaimana sekolah ini tetap bertahan.
Lihat
bagaimana anak-anak desa masih menyimpan mimpi yang sama besarnya dengan
anak-anak di tempat lain.
Jerih Payah yang Semoga Tidak Sia-Sia
Tidak
ada yang tahu sejauh mana ikhtiar kecil ini akan membawa perubahan.
Namun
guru-guru SDN Guluk-Guluk III percaya, setiap kebaikan yang dilakukan dengan
tulus tidak pernah benar-benar sia-sia.
Mungkin
hari ini hanya sebatas memperbaiki tembok.
Mungkin
besok memperbaiki bagian atap.
Mungkin
lusa sekolah kembali mendapatkan perhatian dari masyarakat.
Dan
suatu hari nanti, semoga ada pihak-pihak yang datang membawa solusi yang lebih
besar untuk menjadikan sekolah ini lebih layak, lebih nyaman dan lebih
bermartabat.
Guru
desa mungkin tidak memiliki banyak hal.
Tetapi
mereka memiliki kepedulian.
Mereka
mungkin tidak mampu membeli seluruh kebutuhan sekolah.
Tetapi
mereka mau memberikan tenaga.
Mereka
mungkin belum mampu memperbaiki semuanya.
Tetapi
mereka memilih untuk memperbaiki sesuatu daripada tidak melakukan apa-apa.
Sebab
bagi mereka, menjadi guru bukan hanya berdiri di depan kelas.
Menjadi
guru adalah ikut menjaga tempat di mana anak-anak belajar tentang masa depan.
Dan
dari sekolah kecil di desa ini, sebuah pesan sederhana sedang dikirimkan:
Jangan
selalu menunggu negeri membangun sekolah.
Kadang-kadang, sekolah dan gurunyalah yang harus terlebih dahulu membangun
semangat untuk negeri.
Semoga
jerih payah teman-teman guru SDN Guluk-Guluk III tidak berhenti sebagai kerja
sunyi.
Semoga
ada hati yang tergerak.
Semoga
ada masyarakat yang peduli.
Semoga
ada orang tua yang percaya.
Dan
semoga suatu hari nanti, sekolah kecil di desa ini tumbuh bukan karena belas
kasihan, tetapi karena kepercayaan, kepedulian dan gotong royong banyak pihak.
Guru
Desa Membangun Negeri.
Karena
negeri yang besar selalu bermula dari ruang-ruang kecil tempat anak-anak
belajar bermimpi.
Komentar
Posting Komentar