DUA JUTA RUPIAH DAN MENARA KEMBAR

 

DUA JUTA RUPIAH DAN MENARA KEMBAR

Sebuah Memoar Perjalanan ke Negeri Jiran

Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari kakiku akan menginjak tanah Malaysia. Selama bertahun-tahun, negeri jiran itu hanya hadir dalam cerita orang-orang yang pulang dari rantau. Malaysia bagiku adalah nama yang sering disebut bersama Kuala Lumpur, Menara Kembar, ringgit, dan kisah para perantau yang bekerja jauh dari kampung halaman. Aku mengenalnya dari cerita, dari televisi, dari foto-foto teman yang pulang membawa kenangan. Tetapi cerita tetaplah cerita. Foto tetaplah foto. Sampai suatu hari, aku sendiri berdiri di depan pintu keberangkatan, menggenggam tiket pesawat pulang-pergi. Itu adalah pertama kalinya sepanjang hidup aku naik pesawat dengan tiket PP. Ada perasaan aneh ketika melihat tulisan keberangkatan dan kepulangan tercetak pada tiket. Rasanya seperti memegang janji: aku akan pergi, tetapi aku sudah tahu bahwa suatu hari aku harus kembali.

Pesawat membawaku meninggalkan Indonesia. Dari balik jendela, tanah yang selama ini akrab perlahan mengecil. Rumah-rumah berubah menjadi titik. Jalan raya seperti garis yang ditarik tangan seorang anak. Aku menatap ke bawah dan tiba-tiba merasa bahwa hidup manusia memang begitu: ketika kita terlalu dekat dengan sesuatu, semuanya tampak besar; ketika kita mengambil jarak, ternyata banyak hal yang selama ini kita takutkan hanyalah titik-titik kecil. Namun perjalanan itu belum selesai. Ada pintu imigrasi yang harus kulewati. Dan di sanalah jantungku mulai belajar berdetak lebih keras.

Aku masih ingat suasana kantor Imigrasi Malaysia. Antrean panjang. Orang-orang berdiri membawa paspor dan dokumen masing-masing. Aku memperhatikan barisan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dalam penglihatanku saat itu, orang-orang berkulit sawo matang seperti aku—yang datang dari Indonesia—tampak harus menunggu lebih lama, sementara orang-orang berkulit putih terlihat lebih lancar melewati pemeriksaan. Mungkin itu hanya kesan yang tertangkap oleh mata dan kegelisahanku sendiri. Tetapi ketika kita berada di negeri orang, hal-hal kecil memang mudah berubah menjadi kegelisahan besar.

Aku mulai menghitung kemungkinan. Bagaimana kalau aku ditanya macam-macam? Bagaimana kalau uangku dianggap tidak cukup? Bagaimana kalau aku diminta pulang? Antrean bergerak. Aku maju selangkah. Lalu selangkah lagi. Sampai akhirnya giliranku tiba. Jantungku seperti dipukul dari dalam. Petugas menerima dokumenku.

“Tujuan ke Malaysia?” Aku menjawab sejujurnya.

“Saya ingin menjumpai orang tua saya yang memang ada di Malaysia.” Petugas memandang dokumen itu lagi.

“Berapa uang yang dibawa untuk kebutuhan selama di Malaysia?” Aku menyebut jumlah yang sebenarnya.

“Dua juta rupiah.” Petugas mengangkat wajah.

“Cukup untuk satu bulan?”

Aku diam sejenak. Dua juta rupiah tiba-tiba terasa seperti jumlah yang sangat kecil. Tetapi aku memang hanya membawa itu. Aku tidak mungkin mengubah jawaban.

“Insya Allah cukup.” Aku mengatakannya pelan. Bukan karena yakin dua juta itu benar-benar banyak. Tetapi karena aku percaya, perjalanan ini bukan semata-mata tentang uang. Petugas kembali memeriksa dokumen. Beberapa detik terasa panjang. Kemudian dokumen itu dikembalikan. Aku lolos. Aku menarik napas lega. Di luar, paman sudah menunggu. Saat melihat wajahnya, rasa tegang yang sejak tadi menempel di dada seperti luruh begitu saja. Aku telah melewati pintu pertama negeri orang. Paman membawaku menuju rumah Ibu. Rumah itu berada di Ukay Perdana, Ampang Tasek, Kuala Lumpur. Di sanalah aku tinggal dan menetap selama berada di Malaysia. Sementara Ayah tinggal di Gombak. Dua tempat. Dua rumah. Dua arah perjalanan yang kemudian menjadi bagian dari kisah sebulan yang terasa begitu singkat.

Malaysia ternyata bukan sekadar Kuala Lumpur. Malaysia adalah keluarga. Begitu aku tiba, silaturahmi seperti membuka pintu satu demi satu. Paman, bibi, saudara, keluarga dari pihak Ayah, keluarga dari pihak Ibu. Satu bulan ternyata terlalu pendek untuk menyambangi semuanya. Hampir setiap hari ada saja yang datang menjemput.

“Singgah ke rumah kami.”

“Jangan lupa mampir.”

“Kapan mau ke tempat kami?”

Aku selalu ingin memenuhi semuanya. Tetapi aku tahu, aku adalah seorang pendatang. Aku tidak datang membawa waktu yang panjang. Maka kubuat sebuah aturan sederhana dalam hati: Siapa yang bisa menjemput, akan aku singgahi. Begitulah perjalanan silaturahmi itu berlangsung. Menariknya, kunjungan-kunjungan tersebut berlangsung pada bulan Ramadan. Karena itu, aku seperti memiliki jadwal yang dibuat oleh keluarga dan waktu. Hari ini berbuka di rumah siapa? Besok sahur di rumah siapa? Kadang aku berbuka di satu tempat, lalu sahur di tempat lain. Seolah-olah Ramadan di Malaysia membuat meja makan menjadi peta silaturahmi. Azan magrib bukan hanya tanda berbuka. Ia seperti tanda bahwa hari itu aku sedang berada di rumah seorang saudara. Sepiring nasi, segelas minuman, kurma, lauk-pauk, percakapan keluarga—semuanya menjadi bagian dari perjalanan. Lalu malam datang. Aku berpindah. Besoknya berpindah lagi. Ada kelelahan, tentu. Tetapi ada kebahagiaan yang sulit dibeli dengan apa pun. Sebab ternyata keluarga yang lama tidak bertemu bisa membuat sebuah perjalanan terasa pendek. Satu bulan tidak cukup. Bahkan seandainya aku tinggal lebih lama, mungkin masih ada pintu rumah yang belum sempat kuketuk.

Di sela-sela silaturahmi itulah adikku mengajakku rekreasi.

“Ke Menara Kembar, yuk.” Aku tersenyum. Menara Kembar. Nama itu sudah lama kukenal. Dulu aku hanya melihatnya dari foto. Bahkan aku pernah melihat gambar Menara Kembar melekat di baju teman-teman yang baru pulang dari Malaysia. Bagi orang lain mungkin itu hanya gambar sebuah gedung. Bagiku, gambar itu adalah sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi. Kini aku akan melihatnya sendiri. Kami berangkat. Semakin dekat, menara itu semakin menjulang. Aku mendongakkan kepala. Leherku terasa pegal hanya untuk mengikuti ujung bangunan yang seperti hendak menyentuh langit.

Aku dan adikku masuk ke dalam. Kami mencoba naik ke bagian atas. Lantai berapa, aku sudah lupa. Ingatan memang sering membuang angka, tetapi menyimpan perasaan. Dan perasaan itulah yang masih tinggal sampai sekarang. Ketika aku mencoba melihat ke bawah, kendaraan-kendaraan di parkiran tampak begitu kecil. Seperti bungkus rokok. Aku terdiam. Ada rasa kagum. Ada rasa takut. Ada rasa seperti sedang berdiri di antara bumi dan langit. Dari atas sana Kuala Lumpur terbentang. Gedung-gedung mencakar langit. Jalan-jalan membelah kota. Kendaraan bergerak seperti titik-titik kecil. Aku kembali melihat ke bawah. Jantungku berdebar. Beberapa hari sebelumnya jantung ini berdebar karena takut tidak lolos imigrasi. Kini ia berdebar karena takjub. Aku berpikir, betapa luas dunia ini. Dan betapa kecil manusia jika dibandingkan dengan ciptaan-Nya.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Ramadan terus berjalan. Silaturahmi terus bergerak. Dan akhirnya kalender memberitahukan sesuatu yang tidak ingin kudengar: Waktuku pulang telah tiba. Aku kembali menyiapkan barang-barang. Ada rasa berat meninggalkan Malaysia. Bukan hanya karena negeri itu telah memberiku pengalaman baru. Tetapi karena di sana ada orang tua, keluarga, saudara, dan rumah-rumah yang selama sebulan menjadi tempat singgah. Aku kembali teringat tiket pesawat pulang-pergi yang sejak awal kusimpan. Aku tidak menyangka bahwa tiket yang sama akan membawaku pada sebuah ketegangan terakhir. Dan mungkin, justru itulah bagian perjalanan yang paling mendebarkan.

Aku tiba di bandara dengan keyakinan sederhana: hari itu aku akan pulang. Tiket ada. Tanggal kepulangan tercantum. Semua terasa beres. Tetapi ketika sampai di hadapan petugas maskapai, suasana berubah. Petugas mengatakan tiketku sudah hangus. Aku terdiam.

“Hangus?”

“Iya.”

Aku melihat tiketku. Tanggal yang tercetak di sana masih menunjukkan masa berlaku dua bulan. Aku berpegang pada apa yang tertulis.

“Saya mengikuti tanggal yang ada di tiket ini.” Perdebatan pun dimulai. Sementara penumpang lain satu per satu bergerak menuju pesawat. Mereka naik. Satu demi satu. Kemudian semakin sedikit. Semakin sepi. Sampai akhirnya tinggal aku. Pesawat sudah hampir penuh. Dan aku masih berada di bawah. Aku bisa membayangkan pesawat itu tanpa diriku. Untuk beberapa saat aku seperti berdiri di antara dua kemungkinan: pulang atau mengeluarkan uang lagi. Kalau tiket dianggap hangus, aku harus membeli tiket baru. Dan itu berarti pengeluaran yang tidak pernah kurencanakan. Aku bertahan pada tanggal yang tercetak di tiket. Petugas pun bertahan pada sistem mereka.

Perdebatan berlangsung alot. Tidak ada yang mau mengalah. Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri di sana. Yang kuingat, penumpang lain sudah hampir seluruhnya masuk. Aku sendirian. Akhirnya pihak maskapai mengambil keputusan. Aku boleh naik. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Aku tidak memegang tiket sebagaimana mestinya. Petugas mengatakan persoalan itu merupakan kesalahan dari pihak penerbangan di Indonesia. Aku tidak lagi memikirkan siapa yang salah. Aku hanya memikirkan satu hal: Aku bisa pulang. Lega. Sangat lega. Aku berjalan menuju pesawat dengan langkah yang rasanya jauh lebih ringan. Tidak ada tiket yang kugenggam seperti sebelumnya. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting: kepastian bahwa aku tidak perlu membeli tiket baru.

Di dalam pesawat, aku duduk dan menarik napas panjang. Baru sekarang kusadari bahwa perjalanan pulang ternyata tidak kalah mendebarkan dari perjalanan pergi. Saat berangkat, aku takut tidak boleh masuk. Saat pulang, aku takut tidak bisa berangkat. Di antara dua ketakutan itu, aku menemukan satu hal yang sederhana: perjalanan selalu menyimpan kejutan.

Pesawat mulai bergerak. Perlahan meninggalkan landasan. Malaysia kembali mengecil di bawah sana. Aku memandang dari jendela. Kuala Lumpur yang beberapa hari lalu kulihat dari Menara Kembar kini perlahan menjauh. Menara-menara tinggi berubah menjadi titik. Jalan-jalan berubah menjadi garis. Rumah-rumah menjadi kotak-kotak kecil. Aku tersenyum. Aku teringat dua juta rupiah. Aku teringat pertanyaan petugas imigrasi:

“Cukup untuk satu bulan?” Aku juga teringat jawabanku:

“Insya Allah cukup.” Ternyata yang cukup bukan hanya uang. Yang cukup adalah keberanian. Cukup pula keyakinan untuk pergi. Cukup rasa syukur untuk menerima apa yang diberikan perjalanan. Dan cukup hati untuk membawa pulang kenangan. Aku datang ke Malaysia sebagai seorang pendatang. Aku pulang sebagai seseorang yang membawa cerita. Cerita tentang sebuah tiket pesawat PP yang menjadi pengalaman pertama dalam hidup. Cerita tentang antrean imigrasi. Tentang dua juta rupiah. Tentang rumah Ibu di Ukay Perdana, Ampang Tasek. Tentang Ayah di Gombak. Tentang Ramadan yang membuat buka dan sahur berpindah-pindah rumah. Tentang paman dan bibi yang ingin sekadar disinggahi. Tentang Menara Kembar yang dahulu hanya kulihat di gambar. Dan tentang sebuah tiket yang hampir membuatku tertinggal dari pesawat.

Barangkali perjalanan memang tidak pernah benar-benar tentang tempat. Ia tentang manusia yang kita temui. Tentang kecemasan yang berhasil kita lewati. Tentang kekaguman yang tiba-tiba memenuhi dada. Tentang keluarga yang membuat kita merasa pulang, bahkan ketika kita sedang berada jauh dari tanah kelahiran. Dan tentang sebuah kesadaran: Dunia ternyata luas. Tetapi keluarga membuatnya terasa dekat. Aku menutup mata. Pesawat terus membawa tubuhku pulang. Namun sebagian hatiku masih tertinggal di negeri jiran. Di sebuah rumah di Ukay Perdana. Di rumah Ayah di Gombak. Di meja makan tempat Ramadan menyatukan keluarga. Dan jauh di sana, di antara gedung-gedung yang mencakar langit, dua menara masih berdiri. Menjadi saksi bahwa seorang anak kampung yang dulu hanya mengenal Malaysia dari cerita dan foto, akhirnya pernah berdiri di sana. Melihat dunia dari ketinggian. Lalu pulang membawa kenangan. Dua juta rupiah ternyata cukup. Bukan untuk membeli Malaysia. Tetapi cukup untuk membeli sebuah pengalaman yang tidak akan pernah habis diceritakan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK PENGABDIAN YANG AKAN SELALU KAMI KENANG

Ketika Guru Tak Lagi Menunggu

KKG Gugus I Guluk-Guluk Tingkatkan Kapasitas Guru di Era Digital