Kelak Kalian Akan Mengerti Mengapa Kami Begitu Mencintai Kalian

 

Kelak Kalian Akan Mengerti Mengapa Kami Begitu Mencintai Kalian

Karya: Muhajir Syam

(Untuk anak-anakku: Moh. Iklil Musthofa, Shabrina Afiqatunnisa’, dan Adibatus Sholihah)


Nak…!

Ada banyak hal yang mungkin belum bisa kalian mengerti hari ini. Mengapa Baba dan Ummi pernah melarang kalian pergi. Mengapa ada keinginan kalian yang belum kami kabulkan. Mengapa kami begitu banyak bertanya. Mengapa Ummi kadang terlihat terlalu khawatir. Mengapa Baba kadang memilih diam, tetapi diam-diam memikirkan kalian begitu dalam. Mungkin suatu hari kalian pernah bertanya dalam hati,

"Mengapa Baba dan Ummi tidak membolehkan aku?"

"Mengapa keinginanku tidak selalu dituruti?"

"Mengapa aku harus belajar jauh dari rumah?"

"Mengapa aku harus bersabar ketika teman-temanku bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan?" Dan mungkin, Nak, ada saat-saat ketika kalian merasa bahwa cinta orang tua seharusnya membuat kalian selalu mendapatkan apa yang kalian mau.

Tetapi kelak…

Ketika kalian sudah dewasa, ketika kalian mulai memiliki kehidupan sendiri, ketika suatu hari kalian merasakan beratnya menjadi orang tua, mungkin kalian akan mengerti. Bahwa cinta tidak selalu berbentuk pemberian. Kadang cinta berbentuk larangan. Kadang cinta berbentuk penantian. Kadang cinta berbentuk air mata yang disembunyikan. Kadang cinta berbentuk keputusan yang membuat anak kecewa, tetapi membuat orang tua lebih tenang karena tahu bahwa keputusan itu diambil demi kebaikan anaknya.

Untuk Iklil…

Kamu adalah anak pertama yang mengajarkan kepada Baba dan Ummi bagaimana rasanya melepaskan seorang anak. Baba masih ingat hari ketika kamu berangkat ke pesantren. Pandemi membuat Baba hanya bisa mengantarmu sampai gerbang. Tidak seperti orang tua lain yang mungkin bisa masuk, melihat kamar, menata barang-barangmu, dan memastikan semuanya baik-baik saja. Baba hanya bisa berdiri di sana. Melihatmu pergi. Lalu menyerahkanmu kepada Allah. Sejak hari itu Baba belajar bahwa menjadi seorang ayah bukan hanya tentang menggenggam tangan anak, tetapi juga tentang belajar melepaskan tangan itu ketika waktunya tiba.

Lima tahun berlalu.

Pernah suatu ketika hatimu mulai bimbang. Kamu merasa tidak nyaman. Kamu ingin berpindah. Kamu ingin meninggalkan tempat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. Baba dan Ummi sedih. Bukan karena kami ingin memaksamu. Tetapi karena kami tahu bahwa dalam perjalanan panjang seseorang, ada masa ketika ia merasa lelah sebelum akhirnya menemukan kekuatan. Dan ternyata perjalanan itu tidak hanya menguji dirimu. Ia juga menguji Baba dan Ummi. Mengajarkan kami untuk lebih banyak berdoa, lebih banyak bersabar, dan lebih sering menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.

Hari ini kamu semakin dewasa. Baba melihatmu mulai lebih tenang dalam belajar. Dan Baba berharap, kelak ketika kamu sudah menjadi seorang ayah, kamu akan memahami mengapa dulu Baba dan Ummi begitu banyak khawatir terhadapmu.

Untuk Shabrina…

Kamu mengajarkan kepada Baba dan Ummi bahwa seorang anak perempuan pun harus belajar kuat. Sejak kecil kamu terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Mempersiapkan keperluan sekolah. Belajar sendiri. Mengatur banyak hal tanpa selalu menunggu bantuan. Baba bangga melihat kemandirianmu. Tetapi Baba ingin kamu memahami satu hal:

Mandiri bukan berarti harus berjalan sendirian.

Ada ilmu yang harus dipelajari dengan guru.

Ada masalah yang harus diceritakan kepada orang tua.

Ada kesedihan yang tidak perlu kamu simpan sendiri.

Ketika kamu berada jauh di pesantren dan suatu hari merasa sakit, bingung, kesepian, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa, jangan pernah merasa bahwa kamu harus kuat sendirian.  Tulislah kepada Ummi. Ceritakan kepada Baba. Tidak ada masalah yang terlalu kecil untuk diceritakan kepada orang yang mencintaimu. Baba juga tahu bahwa perjalananmu di pesantren tidak selalu mudah. Ada hari ketika kamu merasa lebih nyaman berada di kelas daripada di kamar. Ada saat ketika kegiatan berhenti dan kamu harus menghadapi kesunyian. Ada saat ketika kamu sakit dan harus memikirkan banyak hal sendiri.

Tetapi, Nak…

Justru dari pengalaman-pengalaman itulah kamu sedang belajar menjadi seorang perempuan yang kuat. Baba tidak berharap kamu selalu menjadi juara. Baba tidak membutuhkanmu untuk selalu berada di posisi pertama. Yang Baba inginkan jauh lebih sederhana: Jadilah anak yang istiqamah.

Teruslah belajar.

Teruslah memperbaiki ibadah.

Jaga adab.

Hormati guru.

Sayangi teman.

Dan jadilah manusia yang keberadaannya memberi manfaat bagi orang lain.

Kalau suatu hari prestasimu menurun, jangan merasa gagal. Kalau orang lain lebih unggul darimu, jangan merasa rendah. Dan kalau suatu hari kamu berhasil, jangan merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab bagi Baba, keberhasilanmu yang paling indah bukanlah ketika namamu disebut sebagai juara. Tetapi ketika kelak orang-orang berkata,

"Shabrina adalah anak yang baik. Ia berilmu, beradab, sabar, dan bermanfaat."

Itulah kemenangan yang Baba harapkan.

Untuk Adibah…

Kamu adalah anak yang masih kecil ketika harus mulai belajar memahami kesibukan Baba dan Ummi. Setiap pagi Baba berangkat menjalankan kewajiban. Ummi juga berangkat bekerja dan mengabdi. Sementara kamu harus belajar bersama guru dan teman-temanmu. Mungkin suatu hari kamu melihat temanmu diantar atau ditemani orang tuanya, sementara Baba dan Ummi tidak selalu bisa berada di sampingmu. Kalau suatu ketika hatimu bertanya,

"Mengapa Baba dan Ummi pergi?"

Ketahuilah, Nak… Bukan karena Baba dan Ummi tidak ingin bersamamu. Justru karena kami sangat mencintaimu, kami berusaha menjalankan kewajiban kami. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada amanah yang harus dijaga. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan. Dan semua itu kami lakukan sambil membawa namamu dalam doa.

Baba tahu kamu masih kecil. Kamu mungkin belum memahami semuanya. Tidak apa-apa. Tumbuhlah perlahan. Belajarlah menjadi anak yang sabar. Belajarlah memahami bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk waktu yang panjang. Kadang kasih sayang hadir dalam bekal yang disiapkan. Dalam pakaian yang dicuci. Dalam makanan yang disediakan. Dalam pertanyaan sederhana, "Sudah makan?"

Dalam pesan, "Jaga diri baik-baik."

Dan terutama dalam doa yang mungkin tidak pernah kamu dengar.

Untuk kalian bertiga…

Iklil, Shabrina, dan Adibah…

Kalian bertiga tumbuh dengan jalan yang berbeda.

Iklil belajar menjadi kuat jauh dari rumah.

Shabrina belajar mandiri dan bertahan di perantauan.

Adibah sedang belajar memahami bahwa Baba dan Ummi tidak selalu bisa berada di sisinya.

Tetapi sesungguhnya kalian sedang belajar pelajaran yang sama: tentang kehidupan.

Kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Tidak semua jalan yang mudah adalah jalan yang terbaik. Dan tidak semua larangan berarti kebencian.

Ada kalanya orang tua berkata "tidak" justru karena mereka terlalu mencintai. Ada kalanya orang tua menahan keinginan anak karena mereka sedang melihat sesuatu yang belum mampu dilihat oleh anaknya. Ada kalanya Baba dan Ummi tampak terlalu khawatir. Mungkin kalian menyebutnya cerewet. Mungkin kalian menyebutnya terlalu protektif. Mungkin kalian merasa kami terlalu banyak mengatur. Tetapi percayalah… Baba dan Ummi tidak sedang berusaha menguasai hidup kalian. Kami hanya sedang berusaha menjaga kalian sampai kalian cukup kuat untuk menjaga diri kalian sendiri.

Suatu hari nanti, kalian akan mempunyai kehidupan masing-masing. Mungkin kalian akan tinggal jauh dari Baba dan Ummi. Mungkin kalian akan memiliki pekerjaan sendiri. Mungkin kalian akan memiliki pasangan hidup. Dan mungkin suatu hari kalian akan memiliki anak-anak yang kalian cintai sepenuh hati. Pada saat itulah, mungkin kalian akan mengingat kembali semua yang pernah Baba dan Ummi lakukan. Larangan-larangan kami. Nasihat-nasihat kami. Kekhawatiran Ummi. Diamnya Baba. Air mata yang tidak pernah kami tunjukkan. Dan doa-doa yang selalu kami panjatkan. Barangkali saat itu kalian akan tersenyum sambil berkata, "Oh… ternyata begini rasanya menjadi orang tua."

Dan mungkin saat itu kalian akan mengerti. Bahwa ketika Baba melarang, bukan berarti Baba ingin melihat kalian kecewa. Ketika Ummi cerewet, bukan berarti Ummi ingin membuat kalian lelah. Ketika kami mengirim kalian belajar jauh dari rumah, bukan berarti kami ingin kehilangan kalian. Justru karena kami mencintai kalian, kami ingin memberikan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar kenyamanan hari ini: bekal untuk menjalani kehidupan.

Nak…

Baba tidak tahu seperti apa masa depan kalian. Baba tidak tahu di mana kalian akan tinggal. Tidak tahu pekerjaan apa yang akan kalian jalani. Tidak tahu siapa yang kelak akan mendampingi hidup kalian. Tetapi ada satu hal yang selalu Baba dan Ummi tahu: ke mana pun kalian pergi, doa kami akan selalu mencari jalan untuk sampai kepada kalian. Jika suatu hari kalian jauh, doa kami menyertai. Jika kalian sakit, doa kami menyertai. Jika kalian gagal, doa kami menyertai. Jika kalian berhasil, doa kami juga menyertai. Jika kalian merasa sendirian, ingatlah bahwa ada dua orang di rumah yang tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan kalian.

Baba dan Ummi mungkin tidak sempurna. Kami mungkin pernah salah. Mungkin pernah terlalu keras. Mungkin pernah kurang memahami perasaan kalian. Mungkin pernah mengambil keputusan yang menurut kalian tidak menyenangkan. Maka maafkan kami. Tetapi percayalah, anak-anakku… tidak pernah ada satu pun keputusan besar yang menyangkut kalian yang tidak disertai cinta dan doa. Baba tidak ingin kalian tumbuh hanya menjadi anak-anak yang berhasil. Baba ingin kalian menjadi manusia yang baik. Berilmu.

Beriman.

Beradab.

Sabar.

Mandiri.

Rendah hati.

Dan bermanfaat. Sebab pada akhirnya, Baba tidak ingin meninggalkan kepada kalian harta yang banyak. Baba hanya ingin meninggalkan doa, nasihat, dan bekal kehidupan yang suatu hari bisa kalian teruskan kepada anak-anak kalian.

Dan jika kelak Baba dan Ummi sudah tidak lagi bisa memanggil nama kalian… Semoga kebaikan kalian menjadi doa yang terus mengalir kepada kami. Semoga ilmu kalian menjadi amal yang tidak terputus. Semoga akhlak kalian menjadi kebahagiaan bagi kami. Dan semoga ketika kalian mengenang masa kecil dan masa muda kalian, kalian tidak hanya mengingat apa yang pernah kami larang atau apa yang tidak mampu kami berikan. Tetapi kalian juga mengingat satu hal: Baba dan Ummi pernah mencintai kalian dengan seluruh kemampuan yang kami punya.

Mungkin cinta kami tidak selalu sempurna. Mungkin cara kami mencintai kalian kadang tidak kalian pahami. Tetapi cinta itu selalu ada.

Di setiap nasihat.

Di setiap larangan.

Di setiap penantian.

Di setiap air mata.

Dan terutama… di setiap doa yang kami panjatkan setelah kalian terlelap. Kelak, anak-anakku… ketika kalian sudah dewasa, ketika kalian sudah menjadi orang tua, ketika kalian mulai memahami betapa beratnya menjaga seseorang yang sangat dicintai, kalian akan mengerti. Mengerti mengapa Baba dan Ummi begitu khawatir. Mengerti mengapa kami tidak selalu mengabulkan keinginan kalian. Mengerti mengapa kami memilih jalan yang kadang membuat kalian kecewa. Dan semoga pada saat itu, kalian tidak lagi melihat kami sebagai orang tua yang terlalu banyak melarang.

Tetapi sebagai dua orang yang sejak awal hanya ingin berkata:

"Nak, berjalanlah sejauh yang kamu mampu. Belajarlah setinggi yang kamu bisa. Jadilah manusia yang baik. Dan jangan pernah lupa pulang kepada Allah."

Dengan cinta yang mungkin tidak selalu pandai kami ucapkan, Baba dan Ummi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JEJAK PENGABDIAN YANG AKAN SELALU KAMI KENANG

Ketika Guru Tak Lagi Menunggu

KKG Gugus I Guluk-Guluk Tingkatkan Kapasitas Guru di Era Digital