AKU PERNAH MEMBENCI TAKDIR
AKU PERNAH MEMBENCI TAKDIR
Muhajir
Syam
Nenek sangat mencintaiku, Aku tahu itu. Tetapi cinta Nenek
bukanlah cinta yang hanya diberikan kepadaku. Cinta itu harus dibagi kepada
enam orang sekaligus. Pada waktu itu, Nenek memiliki dua anak yang usianya
tidak jauh dariku. Dua sepupuku juga tinggal bersamanya karena orang tua mereka
pergi ke Malaysia. Lalu ada aku dan adikku, dua anak yang sejak kecil
kehilangan pelukan orang tua karena perceraian dan jarak yang begitu jauh.
Rumah Nenek akhirnya menjadi tempat berkumpulnya anak-anak yang sama-sama sedang mencari bentuk kasih sayang. Kami makan dari dapur yang sama. Tidur di bawah atap yang sama. Bertengkar karena hal-hal kecil, lalu tertawa lagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tetapi di dalam diriku, ada sesuatu yang berbeda. Ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar berhenti mengetuk: Mengapa aku harus ditinggalkan?
Aku melihat
anak-anak lain digandeng ayahnya ketika berjalan. Ada yang menunggu ibunya
pulang. Ada yang menangis ketika dimarahi, lalu beberapa menit kemudian dipeluk
kembali. Sementara aku belajar mengerti bahwa tidak semua anak tumbuh dengan
kemewahan bernama pelukan. Aku pernah marah kepada Ayah. Aku pernah kecewa
kepada Ibu. Bahkan pernah, dalam diam, tumbuh semacam dendam yang tidak bisa
kujelaskan kepada siapa pun.
Bagiku waktu
itu, mereka adalah dua orang yang pergi. Mereka meninggalkan seorang anak kecil
yang belum mengerti mengapa dunia orang dewasa begitu mudah membuat keputusan,
sementara anak kecil hanya bisa menerima akibatnya. Aku tidak mengerti tentang
perceraian. Aku tidak mengerti tentang pekerjaan. Aku tidak mengerti mengapa
negeri jiran bernama Malaysia begitu jauh sehingga orang tua harus pergi ke
sana untuk mencari kehidupan.
Yang kutahu hanya satu: Ayah dan Ibu tidak ada di rumah. Dan anak kecil tidak pernah pandai memahami alasan. Ia hanya pandai merasakan kehilangan.
Tahun-tahun
berlalu, Aku tumbuh. Tubuhku bertambah tinggi, tetapi luka masa kecil seperti
tidak pernah benar-benar bertambah kecil. Aku mulai mengenal kehidupan dari
sisi yang lebih luas. Aku mulai memahami bahwa orang dewasa juga memiliki luka.
Mereka memiliki keterbatasan. Mereka membuat keputusan dengan pengetahuan yang
mereka miliki pada zamannya. Aku mulai mengerti bahwa mungkin Ayah dan Ibu
bukan tidak mencintaiku. Mungkin mereka hanya tidak tahu bagaimana cara
mencintaiku tanpa harus pergi. Dan pada suatu titik dalam perjalanan hidupku,
aku mulai memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah sanggup kupahami: Tidak semua kehilangan adalah tanda bahwa kita tidak dicintai.
Ada
kehilangan yang lahir dari keadaan. Ada jarak yang tercipta bukan karena
kebencian. Ada perpisahan yang terjadi bukan karena seseorang ingin
meninggalkan, tetapi karena hidup memaksa manusia memilih jalan yang kadang
menyakitkan. Aku pun mulai memandang masa lalu dengan mata yang berbeda. Dulu
aku melihat diriku sebagai korban.
Kini aku melihat diriku sebagai
seseorang yang sedang ditempa. Dulu aku bertanya, “Mengapa aku?” Kini
pertanyaanku berubah menjadi: “Untuk apa semua ini terjadi dalam hidupku?”
Perubahan
pertanyaan itu ternyata mengubah banyak hal. Aku mulai berdamai dengan masa
lalu. Bukan berarti semua luka tiba-tiba hilang. Bukan pula berarti semua
kenangan menjadi indah. Tidak. Ada bagian masa kecil yang tetap terasa perih
ketika dikenang. Tetapi aku tidak lagi membiarkan luka itu menentukan siapa
diriku hari ini. Aku akhirnya mengerti bahwa trauma bukan selalu tentang
sesuatu yang harus dilupakan. Kadang trauma adalah sesuatu yang harus dipahami,
diterima, lalu ditempatkan dengan baik di dalam perjalanan hidup. Aku tidak
bisa mengubah masa kecilku. Aku tidak bisa mengembalikan waktu ketika aku
membutuhkan Ayah dan Ibu tetapi mereka berada jauh di negeri orang. Aku tidak
bisa menghapus malam-malam ketika aku merasa berbeda dari anak-anak lain.
Aku juga tidak bisa mengubah
keputusan yang telah dibuat orang-orang dewasa sebelum aku mengerti arti sebuah
keputusan. Tetapi aku bisa memilih bagaimana menjalani sisa hidupku. Dan
pilihan itu adalah: Aku tidak akan mewariskan luka ini kepada anak-anakku.
Jika dahulu
aku tumbuh dengan pertanyaan tentang mengapa orang tua pergi, maka kelak
anak-anakku harus tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah adalah tempat untuk
kembali. Jika dahulu aku kekurangan pelukan, maka aku ingin anak-anakku tidak
kekurangan kata-kata cinta. Jika dahulu aku belajar memahami kasih sayang dari
kejauhan, maka aku ingin mereka mengenal kasih sayang dari kedekatan.
Mungkin
inilah cara Tuhan bekerja melalui luka. Ada luka yang tidak diberikan untuk
menghancurkan kita. Ada luka yang justru mengajari kita bagaimana menjadi
manusia yang lebih lembut. Aku pernah membenci takdir.
Kini aku belajar mencintainya. Sebab
ternyata, jalan hidup yang dahulu kuanggap sebagai hukuman, perlahan berubah
menjadi sekolah kehidupan.
Nenek adalah
guru pertamaku tentang ketabahan. Jarak adalah guru tentang kerinduan. Kesepian
adalah guru tentang kemandirian. Dan masa lalu adalah guru tentang penerimaan. Kini,
ketika menoleh ke belakang, aku tidak lagi ingin mengutuk siapa pun. Aku hanya
ingin berterima kasih, kepada Nenek, yang dengan segala keterbatasannya telah
memberikan rumah bagi anak-anak yang membutuhkan tempat berlindung. Kepada Ayah
dan Ibu, yang mungkin memiliki cara sendiri dalam menjalani takdir mereka. Dan
kepada diriku sendiri—anak kecil yang dahulu sering merasa ditinggalkan, tetapi
ternyata mampu bertahan sejauh ini.
Barangkali
inilah batas akhir sebuah trauma: bukan ketika
kita melupakan luka, tetapi ketika kita mampu mengingatnya tanpa lagi membenci
siapa pun. Aku akhirnya mengerti. Masa lalu tidak harus dihapus agar kita bisa bahagia. Ia hanya perlu diletakkan pada
tempatnya. Sebagai sejarah, sebagai pelajaran, sebagai bagian dari takdir.
Dan jika suatu hari anak-anakku bertanya mengapa masa kecilku tidak seperti
masa kecil mereka, mungkin aku akan menjawab:
“Karena Allah menulis jalan Baba dengan tinta yang berbeda.” Lalu aku akan tersenyum, Sebab kini aku tahu—aku tidak sedang kalah oleh masa lalu. Aku sedang membuktikan bahwa seseorang bisa lahir dari luka, tumbuh melalui kehilangan, dan akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak diciptakan untuk selamanya menjadi korban. Ada saatnya kita berhenti bertanya, “Mengapa aku ditinggalkan?” Lalu mulai berkata, “Terima kasih, Tuhan. Karena dari perjalanan panjang itu, Engkau mengajariku arti pulang.”
Komentar
Posting Komentar